Sejarah Belum Berakhir : Keretakan dalam Liberalisme
Oleh : Gabriel Francois - 2016330117 / Opini
Francis Fukuyama dalam bukunya “The End of History and
the Last Man” yang dirilis pada tahun 1992 menyatakan bahwa liberalisme yang berisi demokrasi dan
kapitalisme pasar bebas adalah sesuatu yang final dalam peradaban manusia. Hal
ini juga didukung oleh melemahnya ideologi komunis yang ditandai oleh pecahnya
Uni Soviet. Namun ramalan akan akhir dari sejarah semakin hari semakin banyak
ditentang. Berbagai fenomenan politik internasional pada abad ke-21 ini
menunjukkan adanya keretakan dalam liberalisme.
Liberalisme
Sumber gambar : American Thinker
Sepanjang abad ke-20 tiga negara hegemon dunia pada saat
itu yaitu Amerika Serikat, Jerman, dan Uni Soviet telah memberikan tiga gagasan
yang berupa seperangkat ide dan gagasan dan diklaim mampu menjelaskan masa lalu
serta menuntun kita kepada masa depan yang lebih baik. Tiga gagasan itu ialah :
Fasisme, Komunisme, dan Liberalisme. Namun seiring berakhirnya Perang Dunia
Kedua gagasan Fasisme juga turut berakhir dan mati ditelan sejarah. Dan tinggal
menyisakan dua gagasan yaitu Komunisme dan Liberalisme. Tahun 1940an hingga
awal tahun 1990an sejarah dunia diwarnai dengan perang ide antara gagasan
Komunisme dan Liberalisme. Tahun 1991 pun tiba, Uni Soviet terpecah dan tembok
Berlin diruntuhkan. Hal tersebut akhirnya menjadi luka berat bagi kisah
komunisme di dunia dan kisah komunisme pun kalah dalam perang ide dengan
Liberalisme. Dan kini gagasan Liberalisme menjadi satu-satunya gagasan besar yang
hidup di dunia ini.
Runtuhnya Tembok Berlin (1991)
Sumber gambar : Independent
Liberalisme
memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap nilai dan kekuatan
kebebasan. Dan kebebasan dijadikan sebagai senjata untuk membunuh ide-ide
Fasisme dan Komunisme. Liberalisme membangun narasi bahwa sejarah manusia
selama ribuan tahun yang lalu menunjukkan bahwa manusia hidup di bawah rezim
yang menindas dan membatasi kebebasan serta merampas hak politik, peluang
ekonomi, dan membatasi ruang gerak bagi manusia beserta ide-idenya. Liberalisme
dengan kekuatan utamanya yang berupa kebebasan memberika solusi atas
permasalahan-permasalahan tersebut. Permasalahan mengenai rezim yang menindas
dan merampas hak politik individu diubah menjadi rezim demokratis. Permasalahan
mengenai kecilnya peluang ekonomi diselesaikan dengan perusahaan asing yang
menjalin hubungan perdagangan bebas antar negara. Dan manusia pun turut
dibebaskan dalam hal berpikir, manusia akhirnya menentukan arah pikirannya
sendiri ketimbang menuruti negara tentang apa saja yang boleh dipikirkan.
Liberalisme
pun sadar meski ia telah menguasai dunia bukan berarti seluruh permasalahan
dunia telah teratasi. Masih terpadat beberapa contoh kasus dimana
individu-individu masih dikuasai oleh pemimpin otoriter. Selain itu juga
terdapat beberapa kasus lain seperti kemiskinan, kelaparan, dan penindasan
masih terjadi di beberapa negara
terutama negara dunia ketiga. Meninjau semua permasalahan tersebut Liberalisme
menyakini bahwa solusinya adalah memberikan lebih banyak kebebasan.
Perlindungan hak asasi manusia, hak bersuara untuk setiap individu, membuka
akses terhadap pasar dan perdagangan bebas, dan mempermudah pergerakan
individu, barang, dan ide-ide di seluruh penjuru dunia..
Namun
semenjak krisis keuangan global pada tahun 2008, orang-orang di seluruh dunia
telah menjadi semakin kecewa dengan liberalisme. Pembatasan terhadap wilayah
dan akses informasi kembali didirikan. Berbagai gerakan penolokan imigrasi
semakin sering terjadi, hal ini terlihat dengan jelas di Amerika Serikat dan
beberapa negara Eropa Tengah seperti Polandia. Penolakan terhadap perdagangan
bebas pun semakin disuarakan, selain negara-negara berkembang seperti Kamerun
yang sektor agrikulturnya dirugikan akibat kegiatan perdagangan bebas, negara besar
seperti Amerika Serikat pun mengutarakan kekecewaan yang sama. Hal ini terlihat
dengan jelas dalam perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok.
Apakah kemenangan Trump merupakan hasil dari kekecewaan warga Amerika Serikat terhadap Liberalisme ?
Sumber ; Washington Examiner
Tahun 2016 diawali
dengan pemilihan suara terkait Brexit di Inggris dan terpilihnya Donald Trump
sebagai presiden Amerika Serikat. Trump yang ingin memperketat aturan imigran dan melawan perdagangan bebas dengan perang dagang memberikan sebuah isyarat bahwa kekecewaan
akan gerakan liberal telah mencapai negara-negara Eropa Barat dan Amerika yang
justru disebut sebagai wilayah yang paling gencar mempromosikan liberalisme.
Hanya beberapa tahun yang lalu Amerika Serikat masih berupaya ‘mendemokratisasikan’
Irak dan Libya. Namun apa yang kini terjadi di Amerika Serikat adalah penolakan
untuk melepas perasaan-perasaan istimewa akan kasta dalam masyarakat yang
terdiri dari ras, kebangsaan, dan gender. Contoh kasus terbaru lagi yang
menggambaran kekecewaan publik akan liberalisme ialah kemenangan Jair Bolsonaro
di Brazil pada tahun 2018. Kemenangan Jari Bolsonaro menandakan akhir dari politik Brazil yang
selama lebih dari 20 tahun terakhir dikuasai oleh partai-partai berhaluan kiri
(kiri dalam konteks ini adalah liberal). Jair Bolsonaro sendiri adalah seorang
eks anggota militer Brazil yang menjadi politisi dan tergabung dalam partai
konservatif sayap kanan.
Jadi, bila kita melihat fenomena-fenomena yang terjadi di
dunia saat ini rasanya kita dapat mengatakan bahwa ramalan Francis Fukuyama
mengenai akhir dari sejarah tampaknya meleset. Ramalan yang mengatakan bahwa paket
liberalisme yang berisi kebebasan politik, demokrasi, pasar bebas, dan hak
asasi manusia akan menjadi tahap terakhir sejarah manusia justru menemukan
dirinya mulai ditolak oleh negara-negara yang dulunya mempromosikan nilai-nilai
liberalisme tersebut.
Refrensi :
Harari, Yuval Noah. 2018. 21 Lessons for the 21st Century. Manado : Globalindo



Komentar
Posting Komentar