Persaingan China dan Jepang dalam Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat di Indonesia


Persaingan China dan Jepang dalam Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat di Indonesia

Oleh : M. Farhan K. - 2016330249

Kereta Cepat Indonesia-China. Sumber : https://www.merdeka.com/uang/janggalnya-keputusan-indonesia-pilih-china-garap-kereta-cepat.html 
LAGU Kereta Malam yang dilantunkan oleh Juwita Bahar memang sempat mendapatkan sorotan media beberapa tahun terakhir karena sering dibawakan di acara-acara komedi. Lagu tersebut menyinggung sebuah kereta, yang kemungkinan adalah kereta Bima atau Argo Bromo, yang mampu melesatkan Juwita Bahar dari Jakarta hingga Surabaya hanya dalam waktu 12 jam. Nampaknya, Juwita Bahar harus mengganti judul lagunya atau membuat judul lagu baru menjadi “Kereta Setengah Malam” karena pada bulan Juni kemarin, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah mengadakan pertemuan bilateral dengan Menlu Jepang Taro Kono di kantor Kemlu RI di Jakarta. Pertemuan itu membahas percepatan pembangunan infrastruktur, pembangunan pelabuhan, dan pembiayaan “Kereta Setengah Malam” yang mampu menempuh jarak 748 km hanya dalam waktu 5 jam.
Kereta cepat yang ditawarkan China dan Jepang adalah kereta yang mampu melesat dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer perjam. Tapi, apakah ini murni proyek investasi infrastruktur yang ditawarkan oleh kedua negara ?

Bukan Sekedar Kereta
Dalam periode 2015-2019, Indonesia membutuhkan $360 miliar Dollar AS untuk pembangunan  infrastruktur. Jumlah tersebut lebih besar dari total pendanaan bidang infrastruktur Singapura, Malaysai, Thailand, Vietnam, dan Filipina jika disatukan. Maka dari itu, Indonesia membuka pendanaan dan investasi di bidang infrastuktur kepada negara-negara di dunia untuk membangun infrastruktur-infrastruktur yang telah direncanakan melalui pembiayaan antarpemerintah atau ­public-private partnership.
China dan Jepang sebagai raksasa ekonomi Asia yang mempunyai kemampuan ekonomi yang sangat kolosal tentu mempunyai keinginan untuk membangun investasi di berbagai negara di dunia terutama di wilayah Asia Tenggara melalui infrastructure diplomacy yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian infrastuktur, tetapi juga mengikat kedua negara dalam perjanjian bilateral dan kerjasama lintas batas negara.Hampir semua peta pembangunan infrastruktur Asia tenggara dikuasai oleh Perusahaan-perusahaan China dan Jepang. Menurut data dari Bloomberg, Jepang masih memimpin jumlah proyek infrastruktur di Asia Tenggara dengan total 237 proyek dibandingan 191 proyek China.
Pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya dan Jakarta-Bandung bukan sekedar pembangunan infrastuktur saja. Persaingan ini merupakan persaingan dominasi antara China dan Jepang dalam menanamkan pengaruh soft powernya melalui pembangunan infrastruktur di Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Apa yang Mereka Tawarkan ?
Jepang sejatinya sudah selangkah di depan China ketika Indonesia, pada masa pemerintahan SBY, telah setuju untuk melakukan kerjasama pembangunan kereta cepat pada tahun 2009. Kerjasama ini direalisasikan dengan pengiriman tim riset Jepang yang bekerjasama dengan Bapenas dalam pemetaan rel dan pengestimasian biaya pembangunan kereta cepat. Riset ini guna mempermulus jalan Jepang menawarkan produk andalannya, Kereta Cepat Shinkansen. Shinkansen adalah jaringan kereta cepat Jepang sepanjang 2.700 km yang mampu mencapai kecepatan 240-320 km perjam. Sistem kereta yang telah beroperasi lebih dari setengah abad lalu yang telah membawa lebih dari 10 miliar penumpang ini tidak pernah mengalami korban jiwa dari kecelakaan, lepas rel, atau tabrakan. Rekor keselamatan itulah yang menyebabkan Shinkansen menjadi sistem transportasi andalan dan kebanggan Jepang.
Walaupun baru membangun kereta cepat pada akhir dekade 90-an, pada tahun 2018, China memiliki rel kereta cepat sepanjang 27.000 km, lebih panjang dari seluruh rel keret cepat di dunia jika disatukan, dan mampu menahan laju kereta secepat 250-350 km perjam. Walaupun lebih muda jika dibandingkan dengan pengalaman Jepang di bidang kereta cepat, pembangunan infrastruktur kereta cepat yang sangat besar inilah yang menjadi nilai jual China dalam pembangunan infrastruktur kereta cepat di Indonesia. Sayangnya, rekor pembangunan tersebut juga diikuti oleh kecelakaan fatal kereta cepat Wenzhou yang menyebabkan 40 orang tewas dan 192 lainnya terluka akibat tabrakan dengan kereta lain.

Indonesia yang Menyukai Equilbirum
Walaupun sempat menyatakan tertarik untuk membangun jalur kereta cepat pada masa pemerintahan SBY, Indonesia tidak serta-merta langsung mengadakan perjanjian kerjasama pembangunan ataupun investasi di bidang kereta cepat dengan Jepang. Pada saat era pemerintahan Jokowi, Jokowi sempat menyatakan bahwa pembangunan yang sangat diperlukan adalah pembangunan di daerah luar jawa terutama di bagian Timur Indonesia. Maka dari itu, rencana kerjasama permbangunan kereta cepat dengan Jepang sempat tertunda.
Tetapi, pada tahun 2016 Jokowi kembali tertarik dengan pembangunan kereta cepat. Tapi kali ini, pembangunan tersebut akan menyambungkan Jakarta dengan Bandung sebagai tahap awal pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya. China dan Jepang mengajukan proposalnya masing-masing kepada Pemerintah Indonesia terkait pembangunan kereta cepat ini. Indonesia memberikan satu syarat yaitu proyek ini tidak boleh membebani APBN yang berarti Pemerintah Indonesia tidak akan memberikan suntikan dana sepeserpun dalam pembangunan kereta cepat dan semua dana harus ditanggung oleh swasta atau pihak lain.
Persyaratan ini sangat menurunkan posisi tawar Jepang karena Jepang mengharuskan adanya campur tangan Pemerintah Indonesia dalam pembangunan kereta cepat. Melihat posisi tawar Jepang yang turun, China langsung melangkahi Jepang dengan memberikan proposal pembangungan yang tidak melibatkan dana APBN, saham dipegang oleh perusahaan bersama, dan pinjaman dari Bank China. Proposal itu pun diterima Pemerintah Indonesia dan China merebut kemenangan persaingan kereta cepat Jakarta-Bandung  dari Jepang.
Jepang tentu merasa dipermalukan. Banyak pejabat pemerintahan Jepang  yang menyayangkan tindakan “tidak masuk akal” Jokowi yang memilih China. Puncaknya, seorang komikus Jepang menyindir Jokowi  melalui gambarannya mengenai hasil riset Jepang yang diberikan kepada China. Kritik ini menuai banyak komentar pedas dari netizen Indonesia dan  komikus itu pun terpaksa menutup laman facebooknya.
Sadar akan kedua negara yang sedang menyebarkan pengaruhnya melalui soft power ,  jumlah proyek kedua negara di Indonesia, dan kebutuhan investasi di bidang infrastruktur, Jokowi berusaha mengimbangi kemenangan China di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dengan memprioritaskan Jepang di proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Janji Jokowi tersebut diwujudkan dengan pertemuan bilateral antar menteri luar negeri Juni kemarin.
Persaingan pengaruh antara China dan Jepang di Indonesia membawa pengaruh pada pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kedua negara berlomba-lomba untuk mendapatkan proyek dengan memberikan proposal pembangunan yang lebih ringan dari saingannya. Hal ini memberikan Indonesia posisi tawar lebih dalam menentukan  skema pendanaan proyek dan negara mana yang  harus didahulukan.

Sumber :



Komentar