Persaingan China dan Jepang dalam Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat di Indonesia
Persaingan China
dan Jepang dalam Pembangunan Infrastruktur Kereta Cepat di Indonesia
Oleh : M. Farhan K. - 2016330249
![]() |
| Kereta Cepat Indonesia-China. Sumber : https://www.merdeka.com/uang/janggalnya-keputusan-indonesia-pilih-china-garap-kereta-cepat.html |
Kereta cepat yang ditawarkan China dan Jepang adalah
kereta yang mampu melesat dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer perjam.
Tapi, apakah ini murni proyek investasi infrastruktur yang ditawarkan oleh
kedua negara ?
Bukan Sekedar Kereta
Dalam periode 2015-2019, Indonesia membutuhkan $360
miliar Dollar AS untuk pembangunan
infrastruktur. Jumlah tersebut lebih besar dari total pendanaan bidang
infrastruktur Singapura, Malaysai, Thailand, Vietnam, dan Filipina jika
disatukan. Maka dari itu, Indonesia membuka pendanaan dan investasi di bidang
infrastuktur kepada negara-negara di dunia untuk membangun
infrastruktur-infrastruktur yang telah direncanakan melalui pembiayaan
antarpemerintah atau public-private
partnership.
China dan Jepang sebagai raksasa ekonomi Asia yang
mempunyai kemampuan ekonomi yang sangat kolosal tentu mempunyai keinginan untuk
membangun investasi di berbagai negara di dunia terutama di wilayah Asia
Tenggara melalui infrastructure diplomacy
yang tidak hanya berfokus pada pembiayaan, perencanaan, pembangunan, dan
pengoperasian infrastuktur, tetapi juga mengikat kedua negara dalam perjanjian
bilateral dan kerjasama lintas batas negara.Hampir semua peta pembangunan
infrastruktur Asia tenggara dikuasai oleh Perusahaan-perusahaan China dan
Jepang. Menurut data dari Bloomberg,
Jepang masih memimpin jumlah proyek infrastruktur di Asia Tenggara dengan total
237 proyek dibandingan 191 proyek China.
Pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya dan
Jakarta-Bandung bukan sekedar pembangunan infrastuktur saja. Persaingan ini
merupakan persaingan dominasi antara China dan Jepang dalam menanamkan pengaruh
soft powernya melalui pembangunan
infrastruktur di Asia Tenggara, terutama Indonesia.
Apa yang Mereka Tawarkan ?
Jepang sejatinya sudah selangkah di depan China ketika
Indonesia, pada masa pemerintahan SBY, telah setuju untuk melakukan kerjasama
pembangunan kereta cepat pada tahun 2009. Kerjasama ini direalisasikan dengan
pengiriman tim riset Jepang yang bekerjasama dengan Bapenas dalam pemetaan rel
dan pengestimasian biaya pembangunan kereta cepat. Riset ini guna mempermulus
jalan Jepang menawarkan produk andalannya, Kereta Cepat Shinkansen. Shinkansen adalah
jaringan kereta cepat Jepang sepanjang 2.700 km yang mampu mencapai kecepatan
240-320 km perjam. Sistem kereta yang telah beroperasi lebih dari setengah abad
lalu yang telah membawa lebih dari 10 miliar penumpang ini tidak pernah
mengalami korban jiwa dari kecelakaan, lepas rel, atau tabrakan. Rekor
keselamatan itulah yang menyebabkan Shinkansen
menjadi sistem transportasi andalan dan kebanggan Jepang.
Walaupun baru membangun kereta cepat pada akhir dekade
90-an, pada tahun 2018, China memiliki rel kereta cepat sepanjang 27.000 km,
lebih panjang dari seluruh rel keret cepat di dunia jika disatukan, dan mampu
menahan laju kereta secepat 250-350 km perjam. Walaupun lebih muda jika
dibandingkan dengan pengalaman Jepang di bidang kereta cepat, pembangunan
infrastruktur kereta cepat yang sangat besar inilah yang menjadi nilai jual
China dalam pembangunan infrastruktur kereta cepat di Indonesia. Sayangnya,
rekor pembangunan tersebut juga diikuti oleh kecelakaan fatal kereta cepat
Wenzhou yang menyebabkan 40 orang tewas dan 192 lainnya terluka akibat tabrakan
dengan kereta lain.
Indonesia yang Menyukai Equilbirum
Walaupun sempat menyatakan tertarik untuk membangun jalur
kereta cepat pada masa pemerintahan SBY, Indonesia tidak serta-merta langsung
mengadakan perjanjian kerjasama pembangunan ataupun investasi di bidang kereta
cepat dengan Jepang. Pada saat era pemerintahan Jokowi, Jokowi sempat
menyatakan bahwa pembangunan yang sangat diperlukan adalah pembangunan di
daerah luar jawa terutama di bagian Timur Indonesia. Maka dari itu, rencana
kerjasama permbangunan kereta cepat dengan Jepang sempat tertunda.
Tetapi, pada tahun 2016 Jokowi kembali tertarik dengan
pembangunan kereta cepat. Tapi kali ini, pembangunan tersebut akan
menyambungkan Jakarta dengan Bandung sebagai tahap awal pembangunan kereta
cepat Jakarta-Surabaya. China dan Jepang mengajukan proposalnya masing-masing
kepada Pemerintah Indonesia terkait pembangunan kereta cepat ini. Indonesia
memberikan satu syarat yaitu proyek ini tidak boleh membebani APBN yang berarti
Pemerintah Indonesia tidak akan memberikan suntikan dana sepeserpun dalam
pembangunan kereta cepat dan semua dana harus ditanggung oleh swasta atau pihak
lain.
Persyaratan ini sangat menurunkan posisi tawar Jepang
karena Jepang mengharuskan adanya campur tangan Pemerintah Indonesia dalam
pembangunan kereta cepat. Melihat posisi tawar Jepang yang turun, China
langsung melangkahi Jepang dengan memberikan proposal pembangungan yang tidak
melibatkan dana APBN, saham dipegang oleh perusahaan bersama, dan pinjaman dari
Bank China. Proposal itu pun diterima Pemerintah Indonesia dan China merebut
kemenangan persaingan kereta cepat Jakarta-Bandung dari Jepang.
Jepang tentu merasa dipermalukan. Banyak pejabat
pemerintahan Jepang yang menyayangkan
tindakan “tidak masuk akal” Jokowi yang memilih China. Puncaknya, seorang
komikus Jepang menyindir Jokowi melalui
gambarannya mengenai hasil riset Jepang yang diberikan kepada China. Kritik ini
menuai banyak komentar pedas dari netizen Indonesia dan komikus itu pun terpaksa menutup laman facebooknya.
Sadar akan kedua negara yang sedang menyebarkan
pengaruhnya melalui soft power , jumlah proyek kedua negara di Indonesia, dan
kebutuhan investasi di bidang infrastruktur, Jokowi berusaha mengimbangi
kemenangan China di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dengan memprioritaskan
Jepang di proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Janji Jokowi tersebut
diwujudkan dengan pertemuan bilateral antar menteri luar negeri Juni kemarin.
Persaingan pengaruh antara China dan Jepang di Indonesia
membawa pengaruh pada pembangunan infrastruktur di Indonesia. Kedua negara
berlomba-lomba untuk mendapatkan proyek dengan memberikan proposal pembangunan
yang lebih ringan dari saingannya. Hal ini memberikan Indonesia posisi tawar
lebih dalam menentukan skema pendanaan
proyek dan negara mana yang harus
didahulukan.
Sumber :

Komentar
Posting Komentar