Pengaruh Amerika Serikat di Eropa Barat Pasca Perang Dunia Kedua Melalui Marshall Plan
Oleh : Gabriel Francois - 2016330117/Opini
Marshall Plan
Sumber gambar : Wikipedia
Selesainya Perang Dunia Kedua pada September 1945 menyisakan banyak kehancuran, bukan hanya untuk negara dari kubu Axis (Jerman, Italia, dan Jepang) tetapi bagi negara dari kubu Sekutu juga (Inggris dan Prancis) juga beberapa korban perang lain di Eropa seperti Polandia dan Belgia. Negara-negara tersebut dilanda kelaparan yang disebabkan oleh hancurnya sektor agrikultur negara. Juga kehancuran dari sektor transportasi dan infrastruktur. Dan di sisi lain, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara hegemon yang tidak mengalami kerusakan besar di negaranya.
Disamping bantuan kemanusiaan yang diberikan PBB, Amerika
Serikat semenjak 1945 hingga 1947 telah membantu pemulihan perekonomian Eropa
dengan bantuan dana secara langsung. Juga sebagai
tambahan, Amerika Serikat turut memberi bantuan militer kepada Yunani dan Turki.
Pada bulan Januari 1947, Presiden Amerika Serikat Harry Truman menunjuk George
Marshall untuk menempati posisi Sekretaris Negara.
Hanya dalam beberapa bulan, kepemimpinan Departemen Luar Negeri di bawah Marshall dengan bekerja sama dengan George Kennan, William Clayton dan yang lainnya menyusun konsep Marshall Plan, yang George Marshall sampaikan kepada dunia dalam sebuah pidato pada tanggal 5 Juni 1947 di Harvard. Secara resmi dikenal sebagai European Recovery Program (ERP). Marshall Plan menghasilkan kebangkitan industrialisasi Eropa dan membawa investasi ekstensif ke wilayah tersebut. Itu juga merupakan stimulan bagi perekonomian AS dengan membangun pasar untuk barang-barang Amerika. Meskipun partisipasi Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur adalah kemungkinan awal, kekhawatiran Soviet atas potensi dominasi ekonomi AS dari satelit Eropa Timur dan keengganan Stalin untuk membuka masyarakat rahasianya ke barat memburuk gagasan itu. Lebih jauh lagi, tidak mungkin bahwa Kongres AS akan bersedia untuk mendanai rencana itu dengan murah hati seperti jika bantuan juga diberikan kepada negara-negara komunis Soviet.
Hanya dalam beberapa bulan, kepemimpinan Departemen Luar Negeri di bawah Marshall dengan bekerja sama dengan George Kennan, William Clayton dan yang lainnya menyusun konsep Marshall Plan, yang George Marshall sampaikan kepada dunia dalam sebuah pidato pada tanggal 5 Juni 1947 di Harvard. Secara resmi dikenal sebagai European Recovery Program (ERP). Marshall Plan menghasilkan kebangkitan industrialisasi Eropa dan membawa investasi ekstensif ke wilayah tersebut. Itu juga merupakan stimulan bagi perekonomian AS dengan membangun pasar untuk barang-barang Amerika. Meskipun partisipasi Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur adalah kemungkinan awal, kekhawatiran Soviet atas potensi dominasi ekonomi AS dari satelit Eropa Timur dan keengganan Stalin untuk membuka masyarakat rahasianya ke barat memburuk gagasan itu. Lebih jauh lagi, tidak mungkin bahwa Kongres AS akan bersedia untuk mendanai rencana itu dengan murah hati seperti jika bantuan juga diberikan kepada negara-negara komunis Soviet.
Jadi, Marshall Plan diterapkan
semata-mata untuk Eropa Barat, dengan tujuan untuk menghalangi segala bentuk
kerjasama Blok Soviet. Semakin bangkitnya ekonomi Eropa Barat, terutama Jerman
Barat hal ini dipandang mencurigakan oleh pihak Uni Soviet. Para sejarawan
ekonomi telah memperdebatkan dampak yang tepat dari Marshall Plan di Eropa
Barat, tetapi perbedaan pendapat ini tidak menyangkal fakta bahwa Marshall Plan
telah diakui sebagai upaya kemanusiaan yang besar. Sekretaris Negara Marshall menjadi
satu-satunya jenderal yang pernah menerima Hadiah Nobel untuk perdamaian.
Marshall Plan juga melembagakan dan melegitimasi konsep program bantuan luar
negeri AS, yang telah menjadi bagian integral dari kebijakan luar negeri A.S.
"Persatuan Eropa akan Membawa Perdamaian"
Sumber gambar : Boston Rare Maps
Atas dasar rencana terpadu untuk
rekonstruksi ekonomi Eropa Barat yang diberikan oleh komite yang mewakili 16
negara, Kongres AS mengesahkan pembentukan European
Recovery Program, yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden
Harry S. Truman pada 3 April 1948. Bantuan
pada awalnya ditawarkan ke hampir semua negara Eropa, termasuk yang di bawah
pendudukan militer oleh Uni Soviet. Namun Soviet menarik diri dari partisipasi dalam rencana,
dan segera diikuti oleh negara-negara Eropa Timur lainnya di bawah pengaruh
mereka. Ini membuat negara-negara yang tersisa untuk berpartisipasi dalam rencana
pemulihan ekonomi ini adalah : Austria, Belgia, Denmark, Prancis, Yunani,
Islandia, Irlandia, Italia, Luksemburg, Belanda, Norwegia, Portugal, Swedia,
Swiss, Turki, Inggris, dan Jerman Barat.
Di bawah Paul G. Hoffman, Economic Cooperation Administration
(ECA), biro yang dibentuk khusus, didistribusikan selama empat tahun ke depan,
bantuan ekonomi senilai $ 13 miliar, untuk membantu memulihkan produksi
industri dan pertanian, membangun stabilitas keuangan, dan memperluas jaringan perdagangan.
Dan hibah langsung turut
menyumbang sebagian besar bantuan, dan sisanya dalam bentuk pinjaman. Untuk
mengkoordinasikan partisipasi Eropa, 16 negara, yang dipimpin oleh Inggris dan
Prancis, membentuk Committee of European
Economic Cooperation untuk menyarankan program pemulihan empat tahun.
Organisasi ini kemudian digantikan oleh Organisation
for European Economic Co-operation (OEEC), yang mana Jerman Barat akhirnya
diterima. Marshall Plan sangat sukses. Negara-negara Eropa Barat yang terlibat
mengalami peningkatan produk nasional bruto mereka 15 hingga 25 persen selama
periode ini. Marshall Plan berkontribusi besar terhadap pembaruan cepat
industri kimia, teknik, dan baja Eropa barat. Truman memperluas Marshall Plan
ke negara-negara kurang berkembang di seluruh dunia di bawah Point Four Program yang dimulai pada
tahun 1949.
Menuju persatuan ekonomi dan politik di Eropa
Sumber gambar : The New York Times
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Amerika
Serikat memiliki pengaruh yang besar di Eropa Barat pasca Perang Dunia Kedua
melalui kebijakan Marshall Plan. Salah
satu konsep dalam politik internasional yang dapat menggambarkan kebijakan ini
adalah konsep stick and carrot.
Amerika Serikat menggabungkan influence (pemberian
carrots/memberikan dana bantuan untuk
investasi dan pemulihan ekonomi kepada negara-negara yang sejalan dengan tujuan
mereka) dan coercion (sticks/tidak memberikan dana bantuan kepada
negara-negara yang berpihak kepada Uni Soviet).



Komentar
Posting Komentar