Kekuatan Emas Hitam di Dunia Internasional
Pieter Wibisono - 2016330131/News Coverage
Bicara tentang dampak yang dialami
oleh Venezuela karena turunya harga minyak, dampaknya sendiri tidak hanya
berimbas pada Venezula. Negara-negara di sekitar seperti Kolombia juga terkena
imbas dari krisis di Venezuela. Banyak hal-hal cukup memilukan yang dialami
oleh warga-warga yang hidup ditengah-tengah krisis Venezuela. Turunnya harga
minyak dunia berimbas salah satunya pada nilai tukar mata uang Venezuela. Nilai
tukar Rupiah terhadap Dollar AS saat ini kita anggap saja sekitar 14.500-15.000
Rupiah per Dollar AS, di Venezuela sendiri nilainya hampir sekitar 6,3 juta Bolivar
per Dollarnya. Inflasi Venezuela sendiri dikatakan kurang lebih mencapai 1000%.
Harga barang-barang kebutuhan
seperti daging, sayuran, dan lain-lain sangat signifikan kenaikannya. Di Venezuela
daging satu ekor ayam utuh dihargai 14,6 miliar Bolivar. Hal lain yang menyedihkan
juga adalah dimana pekerja disana digaji dengan telur ayam. Selain itu ada juga
warga yang terpaksa untuk mengkonsumsi daging busuk untuk makan. Bagi negara-negara
di sekitarnya, krisis Venezuela memberi dampak dimana banyaknya imigran yang
masuk dan tak jarang menimbulkan masalah bagi negara yang dimasuki. Banyak warga
juga yang harus mencari penghasilan hingga keluar negeri dan rela melakukan pekerjaan
apapun meskipun harus bekerja sebagai PSK. Selain memunculkan isu ekonomi, isu
keamanan juga turut muncul dimana banyaknya penyelundupan komoditas-komoditas
yang merupakan barang kebutuhan sehari-hari seperti makanan, obat-obatan dan
barang-barang lainnya.
THE CAUSE
Bila berbicara tentang minyak,
tentunya tidak akan lepas dari negara-negara lain yang juga merupakan penghasil
minyak. Dapat dikatakan negara-negara tersebut punya peran yang cukup penting
terkait politik minyak di dunia. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
harga minyak dunia tengah menurun cukup drastis. Banyak hal yang disinyalir
dianggap sebagai penyebab dari turunnya harga minyak dunia. Mulai dari munculnya
alternatif baru penambangan minyak hingga masifnya suplai negara-negara
penghasil minyak di dunia disinyalir menjadi penyebab penurunan harga tersebut.
Amerika Serikat menemukan alternatif
baru terkait pertambangan minyak bumi. AS tengah mengembangkan teknologi mereka
yang disebut dengan “fracking”. Fracking merupakan
metode penambangan minyak dengan melakukan ekstraksi material seperti batuan-batuan.
Mereka mengklaim bahwa metode ini lebih efisien daripada metode penambangan
biasa pada umumnya. Disamping hal tersebut, AS sebenarnya bukanlah negara
penghasil minyak. Namun sejak dikembangkannya teknologi pertambangan mereka
maka AS yang asalnya merupakan konsumen atau importir minyak bumi, kini dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri dan tidak bergantung pada supplier minyak. Berkaitan dengan hal itu sesuai dengan hukum
ekonomi dimana permintaan menurun atau berkurang, maka harga barang atau
komoditas juga akan turun.
THE SAUDI’S INVOLVEMENT
Arab
Saudi merupakan negara peghasil minyak bumi terbesar di dunia. Saat harga
minyak tengah turun, diketahui bahwa Arab dan negara-negara penghasil minyak di
sekitarnya tengah menimbun suplai minyak dunia. Hal tersebut tentu sangat jelas
menyebabkan penurunan yang drastis terhadap harga minyak dunia. Dimana suplai
atau pasokan melebihi angka permintaan, maka harga akan turun. Pastinya kita
akan bertanya-tanya mengapa Arab melakukan tindakan yang demikian. Tindakan yang
dilakukan oleh Arab tentu tidak rasional untuk dilakukan.
Dalam HI menurut perspektif realisme,
dikatakan bahwa sistem internasional bersifat anarki atau tidak ada otoritas/
pemerintahan tertinggi di dalamnya. Dalam sistem internasional yang anarki, setiap
aktor di dalamnya yakni negara cenderung self-help
dan mengandalkan kekuatanya sendiri (struggle
for power) untuk dapat bertahan. Bila dikaitkan dengan Arab Saudi, dapat
dilihat bahwa Arab menunjukkan power atau
kekuatanya lewat minyak. Mengapakah demikian?
Pada sekitar tahun 1970-an, Arab
Saudi pernah menggunakan minyak sebagai senjata politiknya. Saat itu Arab
menggunakannya untuk menghadapi Iran yang merupakan rivalnya yang juga merupakan
negara penghasil minyak bumi. Dumping minyak
yang dilakukan oleh Arab dalam kasus ini tentu tujuan kurang lebih sama. Arab
sebagai pemain lama dalam pertambangan minyak bumi dan termasuk supplier terbesar minyak bumi di dunia. Dilansir
dari beberapa sumber, Arab memiliki tujuan untuk menjatuhkan pesaingnya-pesaingya
sebagai produsen minyak bumi. Mereka melakukan dumping dengan tujuan agar negara-negara pesaingnya melakukan hal
yang sama. Dengan banyaknya suplai minyak dunia maka harganya kelak akan turun.
Arab Saudi mengklaim bahwa mereka memiliki efisiensi dalam segi biaya produksi
minyak. Dumping yang dilakukan untuk
menurunkan harga bertujuan untuk memberikan imbas pada negara-negara penghasil
minyak lainnya dimana hasil dari penjualan minyak tersebut tidak dapat menutupi
biaya produksi dan lama kelamaan akan merugikan negara-negara penghasil minyak
lainnya.
CONCLUSION
Venezuela
merupakan negara yang terkena imbas cukup besar dari politik minyak dunia. Karena
ketergantungannya dan sumber pemasukan utama negara hanya dari satu komoditas
saja yakni minyak bumi. Pandangan tentang power
yang yang selalu lekat dengan kekuatan militer tidaklah lagi relevan dalam
kasus ini. Tindakan Arab Saudi dalam melakukan dumping minyak dapat dikategorikan sebagai Hard Power dalam HI. Tindakan yang dilakukan oleh Arab Saudi
tersebut memberikan dampak langsung terutama terhadap Venezuela. Setiap
tindakan yang dilakukan oleh aktor-aktor dalam hubungan internasional mungkin
sering dipertanyakan rasionalitasnya bila tindakan tersebut cukup
kontroversional. Namun meskipun kadang dinilai tidak rasional, tiap tindakan yang
dilakukan oleh satu aktor dalam hi pasti ada maksud dan tujuan terntentu. Dari kasus
ini dapat dilihat juga bahwa politik dunia dinamis dan penuh dengan
ketidakpastian/ uncertainty.
Sumber :

Komentar
Posting Komentar