Hollywood : Hard “Soft Power” ?
Hollywood :
Hard “Soft Power” ?
Oleh : M. Farhan K. – 2016330249/Opini
FILM adalah salah
satu sarana hiburan paling diminati di dunia semenjak satu abad lalu. Film
menggunakan media yang awalnya berbeda, audio dan visual, menjadi media
audio-visual yang membuat gambar bergerak yang dapat diiringi suara baik
percakapan maupun musik. Hal ini membuat film menjadi media yang sangat tepat
untuk sarana penyampaian informasi bagi negara-negara yang mempunyai
kepentingan karena sifatnya yang merupakan hiburan dan sangat diminati oleh
masyarakat dan tidak memandang kelas yang ada.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara tempat
berkembangnya industri film dunia. Perang Dunia ke-2 memberikan industri film
Amerika Serikat kesempatan untuk berkembang. Film-film dan kartun anti-Jerman
dan anti-Jepang banyak disiarkan tv-tv lokal. Bahkan kartun-kartun tersebut
menjadi instrumen propaganda bagi musuh dan bagi tentara Sekutu agar tetap
gigih bertempur melawan Kekuatan Poros pada perang dunia ke-2.
Tak berhenti di perang dunia ke-2 , film menjadi salah
satu instrumen penting dalam penyebaran
pengaruh Amerika Serikat di perang korea, perang vietnam, dan perang dingin
secara keseluruhan. Film menjadi
instrumen propaganda dan “amerikanisasi” dunia. Dan aktor-aktor
pembuatnya adalah rumah produksi dan produser-produser film Hollywood.
Soft power yang keras ?
Hampir tiga dekade lalu, Joseph Nye menyatakan sebuah
konsep yang mambuat target melakukan
suatu hal yang awalnya target tidak inginkan. Konsep itu bernama soft power. Berbeda dengan hard power yang menggunakan kekuatan
militer untuk melakukan segala hal dan memperoleh kontrol, soft power menggunakan kekuatan nonkoersif untuk memberikan
pengaruh kepada negara-negara di dunia.
Dalam penggunaan, kekuatan lunak bisa berubah dalam
berbagai bentuk yang salah satu bentuknya adalah sebuah film. Sebuah film bisa
mengandung elemen-elemen dari kekuatan lunak yang diantara lain adalah :
propaganda, diplomasi publik, pengaruh, dan persepsi. Sudah sedari dulu film
dijadikan corong propaganda, dplomasi publik, penyebar pengaruh, dan pembuat
persepsi dari Amerika Serikat. Film-film laga Hollywood yang banyak menampilkan
kisah kepahlawanan, peperangan, persenjataan amerika, dan segala hal termasuk setting yang Amerika sentris.
Tapi jika kita melihat sebuah film dari sudut pandang soft power dan hard power, ada suatu kejanggalan yang sangat-sangat implisit. Kita
pasti,secara sadar ataupun tidak
sadar, bahwa sebuah film membawa suatu
pesan tertentu. Seperti di film-film Hollywood, tentu Amerika Serikat dan
produsernya akan menyebarkan nilai-nilai
Amerikanya (walaupun ada pula film Hollywood yang mengkritik AS). Sering kali,
pesan pesan di film-film Hollywood disampaikan dengan menggabungkan
elemen-elemen soft power dengan
elemen-elemen hard power.
Film-film tentu mempunyai tujuan untuk mengubah persepsi
atau menanamkan suatu nilai kepada
penontonnya. Tujuan tersebut tentu adalah sebuah soft
power yang ditujukan kepada penonton. Tapi dalam kasus film-film Hollywood, para produser
menggunakan instrumen-instrumen hard power seperti kekuatan militer dan
aksi-aksi koersif untuk menyampaikan pesan dan mengubah persepsinya. Hal ini
tentu membuat film-film Hollywood menjadi sebuah instrumen soft power yang “keras”.
Membangun Persepsi Melalui Aksi Laga
Lalu dengan penggunaan
konten koersif hard power dalam film-filmnya, apa yang ingin para produser dan
Amerika Serikat ingin sampaikan kepada penontonnya ? dengan penggabungan
instrumen hard dan soft power, penulis mempunyai dugaan
Amerika Serikat mempunyai tujuan untuk memperhalus proyeksi kekuatannya,
terutama kekuatan militer. Melakukan proyeksi kekuatan militer (flexing)
secara konvensional bisa diterjemahkan sebagai
“pamer otot” bagi negara-negara yang mempunyai hubungan kurang baik
dengan AS. Ajang unjuk kekuatan ini bisa menimbulkan rasa terancam pada negara-negara atau aktor internasional
lainnya yang tidak menyukai AS dan akan mengundang reaksi yang sama. Contohnya
ketika AS mengadakan latihan perang bersama NATO, Russia membalasnya dengan
mengadakan latihan perang skala besar. ketikaAS mengadakan latihan perang
bersama Korea Selatan, Korea Utara menjawabnya dengan menebar ancaman nuklir ke
Guam dan latihan artileri skala besar. Proyeksi kekuatan milier AS sebagai
elemen dari hard power selalu
mendapat respon yang setara.
Lalu bagaimana cara AS untuk menunjukan kekuatan
militernya tanpa ada retaliasi dari pihak lain ? melalui film. Tentu ketika
kita melihat film-film laga Hollywood yang bertemakan perang, seperti Transformers, Battle :Los Angeles,
Battleship, Rambo, Green Zone, Heartlocker, Black Hawk Down, dan lainnya,
kita disuguhkan dengan aksi-aksi aktor laga yang berperan sebagai anggota dari
berbagai cabang dari militer Amerika Serikat. Aktor-aktor tersebut memainkan
peranan sebagai tentara yang terlatih, profesional, bermoral, setia kawan, dan
melindungi warga sipil negara lain.
Dalam film-film bertemakan perang yang diproduksi Hollywood, para
produser sengaja memerkan kekuatan alutsista AS sebagai salah satu elemen
penghibur. Biasanya, alutsista yang ditampilkan adalah alusista mumpuni dari
tiga marta angkatan perang AS. Di udara, biasanya ditampilkan Air Superiority AS di suatu wilayah
dengan bantuan Close Air Support dan
pesawat-pesawat tempur seri F. Di darat, biasanya ditampilkan infantri yang
profesional, terorganisir, dan bantuan dari satuan lapis baja dan artileri. Di laut,
biasanya ditampilkan kekuatan blue water
navy AS dengan kapal induk dan kapal-kapal pengawalnya.
Selain itu, film-film Hollywood seringkali menggambarkan
tokoh-tokoh antagonis sebagai orang yang berasal dari daerah-daerah yang
memiliki hubungan kurang baik dengan Amerika. Biasanya tokoh tersebut berasal
dari Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia. Sering kali juga tokoh-tokoh
antagonis menggunakan senjata yang dibuat oleh Russia dan China seperti AK-47
dan RPG-7. Hal ini membangun persepsi kepada penonton dengan stereotipe yang
ditunjukan di film-film Hollywood.
Kesimpulan
Hollywood
dapat menggabungkan soft power dan hard power.
Hal ini sangat menguntungkan AS karena AS dapat memproyeksikan kekuatan
militernya secara Cuma-Cuma tanpa menerima retaliasi atau respon negatif dari
negara-negara yang mempunyai hubungan kurang baik dengan AS. Dari film-film
Hollywood pula AS dapat melakukan national branding dan membangun persepsi
dari sudut pandang AS.
Komentar
Posting Komentar