Hallyu-an*: The Power of Korean Wave in Popular Culture
Hallyu-an*: The Power of Korean Wave in Popular Culture
Pieter Wibisono - 2016330xxx/Opini
*Hallyu-an: diambil dari
kata “haluan” yang berarti arah/ tujuan, hendak menjelaskan bahwa saat ini
budaya Korea Selatan tengah menjamur dan menjadi salah satu arus Popular Culture
di dunia.
“Despacito” proved that pop
speaks every language.
Mengutip kalimat pendek dalam artikel berjudul “How K-Pop Conquered the West” oleh Amy X. Wang dari laman berita
Rolling Stone. Bila mendengar istilah “Despacito”
tentunya telinga kita sudah tidak asing lagi dengan lagu yang jumlah view-nya sudah menyentuh angka 5.733.359.420
penonton (data 25 November 2018, pukul 18.48) di laman Youtube. Lantunan lagu “Despacito”
kerap kali muncul dan diperdengarkan di banyak media seperti acara televisi.
Lagu ini sendiri sebenarnya berbahasa latin dan kebanyakan pendengarnya di
seluruh dunia mungkin tidak memahami arti dari lagu ini. Namun komposisi lain dari
lagu ini yakni irama, dinilai membuat lagu ini cukup banyak diminati dan banyak
didengarkan oleh masyarakat secara luas. Anggapan tersebut dirasa cukup
menjawab terkait bagaimana sebuah tren, dalam hal ini lagu yang berbahasa asing
(latin) dapat menghilangkan barrier atau
batasan yakni bahasa. Disamping terkenalnya lagu “Despacito” hingga seluruh belahan dunia, bila membahas tentang Popular Culture atau tren perhatian kita
tidak luput dari salah satu tren di dunia yakni K-Wave atau Korean Wave. Tren
apakah K-Wave itu?
Korean Wave
K-Wave atau Korean Wave merupakan
sebuah fenomena global dimana terjadi masifnya dan menjamurnya penyebaran
budaya Korea di masyarakat luas. Selain akrab dengan sebutan K-Wave, fenomena ini disebut juga dengan
Hallyu (arus dari Korea/ flow of Korea). Budaya K-Wave sendiri disebarkan diantaranya lewat
musik (K-pop), film (K-drama), fashion, dan lain-lain. Di Indonesia,
fenomena demam Korea sendiri sudah cukup lama menjadi tren di masyarakat. Pendengar
musik-musik Korea tentunya pasti tidak asing lagi jika mendengar nama-nama grup
penyanyi asal Korea Selatan seperti Super
Junior, Girls Generation dan nama-nama lainnya. Demikian pula bagi para
penikmat film-film dan drama serial Korea, pasti tidak asing bila mendengar
beberapa film dan drama serial Korea ternama seperti “Descendants of The Sun” dan “Goblin”.
Menjamurnya
budaya Korea sendiri merupakan keberhasilan bagi pemerintah Korea Selatan. Perlu
kita ketahui bahwa pemerintah Korea Selatan menganggarkan sebagian dananya
untuk kepentingan budaya dan media. Dari fenomena meluasnya persebaran K-Wave, investasi pemerintah terhadap
budaya dan media terbayar dengan semakin dikenal luasnya Korea Selatan oleh
masyarakat global. Selain dikenalnya budaya Korea secara luas, K-Wave juga mendatangkan keuntungan dari
hasil penjualan baik musik, hiburan, dan lain-lain. Menurut data dari Korea Creative Content Agency pendapatan
dari hasil idustri K-Pop sendiri meningkat dari 43 milyar Dollar AS pada tahun
2011 menjadi 58,3 milyar Dollar AS pada tahun 2014. Industri K-Pop sendiri semakin
lama kian semakin berkembang. Keseriusan mereka (produser) dapat terlihat
dimana banyaknya diadakan audisi-audisi dan tak jarang juga mereka mencari
talenta-talenta baru hingga ke luar Korea.
Power by Giving Influence
Kita pasti
berfikir dan mungkin bingung dengan banyaknya penikmat musik dan drama Korea di
dunia yang belum tentu mengerti bahasa Korea. Perbedaan budaya dalam hal ini
perbedaan bahasa seharusnya menjadi kendala dalam menerima arus budaya K-Wave ini. Lantas bagaimana tren musik
dan drama Korea ini tetap digandrungi oleh masyarakat secara luas? Drama dan
film-film Korea memiliki ciri khasnya sendiri. Banyak film-film dan drama Korea
yang ceritanya berfokus pada karakter perempuan yang memiliki masalah. Lalu dimunculkan
sosok karakter laki-laki yang membantunya, biasanya sosok karakter laki-laki
ini digambarkan memiliki kekuatan-kekuatan dan berbeda dengan realita sosok
laki-laki biasa pada umumnya. Hal-hal tersebut didasarkan atas maksud untuk
memenuhi fantasi dari penikmat film-film dan drama Korea. Dari asumsi tersebut,
kita bisa mengetahui bahwa alasan mengapa orang-orang (terutama wanita)
menonton film dan drama Korea adalah sebagai bentuk pelarian dari dunia nyata.
Konten
yang menarik namun terkendala bahasa. Masalah ini mungkin bukan merupakan suatu
masalah besar. Di berbagai media sosial kian banyak bermunculan komunitas pencinta
budaya K-Wave. Mereka tak jarang
secara sukarela menerjemahkan kata demi kata dalam film-film dan drama serial
Korea. Beberapa grup penyanyi juga terkadang menciptakan versi bahasa lain dari
lagu mereka seperti dalam bahasa Inggris, Jepang, dan bahasa lainnya. Selain itu
terkait masalah bahasa terkadang para penikmat film dan drama Korea tak jarang
juga sampai rela untuk mempelajari budaya Korea dikarenakan urgensi atas
pengaruh dari budaya K-Wave.
Influence atau pengaruh merupakan salah
satu bagian dari konsep Power. Influence
sendiri merupakan kekuatan dalam memberikan pengaruh bagi aktor lain. Agar influence dapat berjalan diperlukan voluntariness atau kesukarelaan dari
aktor lain. Influence sendiri berhubungan
dengan soft-power sebuah negara. Soft-power sendiri adalah kekuatan suatu
negara yang didalam penggunaannya tidak ada paksaan bagi aktor lain dan
mengarah pada perdamaian. Dalam kasus
ini tren K-Wave atau Korean Wave dapat dikategorikan sebagai soft-power dari Korea Selatan,
mengapakah demikian? Tren K-Wave
dinilai dapat membius banyak orang di dunia untuk mengikutinya. Selain itu power atau kekuatan Korea Selatan dalam
tren K-Wave sendiri terlihat dimana Korea
Selatan mendapatkan keuntungan secara ekonomi dan mendapatkan perhatian di mata
internasional. Keuntungan ekonomi Korea sendiri selain dari hasil penjualan industri
hiburan, juga lewat banyaknya tempat-tempat tertentu yang dijadikan tempat
pengambilan film yang akhirnya meramaikan wisata lokal disana.
Sumber:
Komentar
Posting Komentar