Diskusi Sore dengan Dhira Narayana, Pria di balik LGN


Diskusi Sore dengan Dhira Narayana, Pria di balik LGN

Andi Muhammad Yusuh Nurkhatamzie Basro - 2016330160 : Interview

Dari Bob marley, Band rock psychedelic sampai ibu guru kita, memberi suatu pelabelan dengan istilah “tanaman setan”, kita semua familiar dengan tanaman ganja dan stigma yang masyarakat berikan terhadap tanaman tersebut. Tanaman ganja adalah topik yang kontroversial untuk dibahas terutama di Indonesia, ada yang bilang tanaman ganja sangat bermanfaat bagi industri dan medis, ada juga yang berkata bahwa tanaman tersebut membuat kita kecanduan dan meningkatkan kriminalitas. Kita bisa berargumen panjang mengenai ganja, tapi kita tidak bisa membantah bahwa tanaman ganja memiliki dampak terhadap budaya dan masyarakat kita. Saya ingin tahu seberapa signifikan dampak ganja terhadap kebudayaan kita. Selain itu saya juga ingin tahu argumen mengapa ganja harus dilegalkan dan sejauh apa progres Indonesia menuju legalisasi ganja. Oleh karena itu, saya datang ke Rumah Hijau LGN untuk berdiskusi dengan Ketua LGN (Lingkar Ganja Nusantara) Dhira Narayana.

LGN dan tanaman Ganja
Alasan di balik Dhira Narayana yang fokus pada advokasi tanaman ganja, simple karena tanaman ganja ada di Indonesia “Tanaman ganja ini udah kadung ada, awal nya saya tidak punya niat, cuman karena ada jalan hidup yang mengarahkan saya ke situ, ya sudah saya jalani”. Secara medis, menurut penelitian WHO (World Health Organisation) ganja dapat membantu depresi, PTSD (Post Traumatic Disorder), Adiksi terhadap narkotika kimia, kanker, diabetes dan masih banyak lagi. Masih ingat kasus Fidelis? Selain itu ada tanaman ganja jenis hemp yang dapat menjadi bahan dasar meja, baju, sepatu dan apapun. Jadi bisa dibilang ganja adalah tanaman yang sangat serbaguna dan variatif. Menurut Dhira, ganja masih ilegal walaupun memiliki banyak manfaat di bidang industri dan medis karena masyarakat Indonesia yang sedang dibodohi dan mau dibodohi. Yang bermasalah bukan sistem yang membodohi tapi mengapa orang Indonesia mau dibodohi. Dhira mengatakan “Setan punya tugas menghasut manusia, terus ada manusia yang terhasut. Yang salah yang menghasut atau yang dihasut? Begitu juga dengan ganja, yang salah yang melakukan pembodohan atau yang dibodohi?” Dhira memberikan analogi yang baru terhadap legalisasi tanaman ganja, jadi pada dasarnya fakta tentang ganja sudah ada tapi masyarakat indonesia masih buang muka dan mau dibodohi terhadap fakta-fakta oleh sistem yang ada. Dhira menganalogikan orang-orang yang dibodohi oleh sistem ini sebagai orang-orang yang sedang tertidur, dan bagaimana kita membangunkan orang-orang yang sedang tidur? Orang-orang yang sudah bangun harus mebangunkan orang-orang yang sedang tidur, jadi orang-orang yang sudah paham soal ganja seharusnya mengedukasi orang-orang yang masih dibodohi. Apakah sudah banyak orang yang bangun? “Kalo itu saya gak tau, masalahnya orang bangun ada yang udah bangun tapi di kamar dan diam doang, ada juga yang bangun lalu keluar bekerja”.

Menurut Dhira kita harus bangun tapi kita tidak bisa hanya diam, kita harus beraksi dan bekerja, jadi hal-hal kecil dari memakai kaos mengenai ganja atau memberikan informasi mengenai ganja saat nongkrong pun akan memiliki pengaruh. Apakah Indonesia siap menghadapi legalisasi ganja? “INDONESIA SIAP, kita itu sebagai bangsa sangat fleksibel. Orang-orang kampung itu lebih siap menghadapi perubahan dibandingkan orang-orang kota, saat saya berdiskusi dengan orang-orang di bantul, menurut mereka aneh ganja itu ilegal. Orang-orang kota aja yang ribet, kalo ngomongin ganja selalu ada tapi (ganja tuh baik tapi..) nya, tapi semua hal juga ada tapi-nya, gula juga ada tapi-nya begitu juga dengan garam. Saya juga berdiskusi mengenai ganja sintetis yang sangat populer di kalangan anak muda, tanggapan dia hanya “Intinya itu bukan ganja, jadi saya tidak mengerti soal sintetis itu”.

Sejarah dan Budaya
Dari informasi yang saya dapat dari Dhira, di sejarah Indonesia ada penggunaan ganja. Kita bisa lihat di Aceh buat masak, Maluku ada di buku-buku Belanda, di Jawa kita bisa liat di anatomi keris, kitab-kitab herbal juga ada dan di agama hindu juga ada karena kita dulu peradaban hindu yang besar. Tinggal kita saja yang harus membuktikan. Dhira sangat menggemari Bob Marley. Pada awalnya karena saat dia “giting”, lagu-lagu Bob Marley sangat enak untuk didengarkan. Namun, setelah Dhira memerhatikan lirik lagu-lagu Bob Marley, lirik Bob Marley tidak hanya menyentuh isu-isu sosial tapi lirik-lirik Bob Marley sangat spiritual. “Saya tidak tahu yang mana muncul duluan dari Bob Marley, spiritualitas baru ganja atau sebaliknya. Seperti ayam dan telur”.

Dhira melihat budaya adalah hasil pemikiran manusia dan manusia adalah manifestasi dari tuhan, Kita secara umum melihat manusia horizontal, namun spiritualitas tidak melihat manusia sebagai horizontal. Menurut spiritualitas dari manusia berasal dari atas, turun ke bawah lalu naik keatas lagi. “Ganja itu di satu sisi membuat orang high, high dari bawah ke atas. Jadi dia bisa membuat manusia semakin dekat hubungan nya kepada yang di atas. Badan nya masih di bawah tapi kesadaran-nya sudah meningkat” Menurut Dhira kita sebagai manusia jangan berhenti sampai high saja, karena kita harus mencapai the highest. Agama juga kebudayaan, jadi agama adalah kebudayaan yang membantu kita mencapai “the highest”, selama ganja bisa mendekatkan kita dengan “the highest” Dhira akan mengikuti dan mempelajari.

Di dalam pop culture ganja dibilang rekreasi karena bisa membebaskan kita dari realita, kita miskin kita lupa, kita capek kita lupa dan kita senang pun kita bisa berbagi. Menurut dia orang-orang yang sudah kenal dengan ganja sangat beruntung. Dalam bidang medis ada jenis ganja CBD dan dalam industri ada hemp, menurut Dhira jika ada sesuatu yang baru pasti akan menguntungkan, contoh-nya seperti Go-jek. Jika kita membuat sesuatu yang baru dan menguntungkan, kita akan jadi pioneer. “Ganja ini sesuatu yang luar biasa, tapi segala hal bisa menjadi luar biasa jika kita mencari tahu filosofi-nya. Kita bisa mencari tahu filosofi di balik kaos atau filosofi di balik jari-jari, itu juga bisa menjadi sesuatu yang luar biasa” Ungkap Dhira yang menutup diskusi kami sore itu.

Penerapan Smart Power oleh Amerika Serikat

Amerika Serikat sudah lama menjadi polisi narkotika dunia, namun semua itu berubah setelah diizinkan nya 9 negara bagian legalisasi ganja. Hukum internasional yang melarang negara-negara untuk membentuk kebijakan terhadap tanaman ganja sudah tidak bisa lagi dilaksanakan. Dengan Kanada melegalkan ganja, hal tersebut bisa menjadi permanen. Amerika Serikat dulu menjadi pendukung utama dan eksekutor pelarangan tanaman ganja. Kriminalisasi ganja adalah salah satu isu yang disetujui oleh Amerika Serikat, Rusia dan Cina saat Perang Dingin, ketiga negara tersebut juga melakukan kerjasama menangani isu ganja. Namun sejak tahun 2012 saat Colorado dan Washington memilih untuk melegalkan ganja, administrasi Obama mengizinkan kedua negara bagian untuk melanjutkan kebijakan mereka. Di tahun 2014 wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat William Brownfield, berkata kepada media yang meliput PBB bahwa Amerika Serikat harus memberikan toleransi kebijakan narkotika setiap negara. Akan ada negara yang keras terhadap narkotika dan ada juga yang fleksibel.

Amerika Serikat menggunakan smart power untuk menggertak perubahan kebijakan narkotika sekecil apapun. Di Antara tahun 1986 dan 2002, Amerika Serikat memiliki kebijakan sertifikasi terhadap negara-negara yang menjadi sumber produksi dan penyelundupan narkoba, terutama di Amerika Latin. Dibawah proses ini negara-negara yang tidak disertifikasi oleh Amerika Serikat bisa kehilangan semua bantuan dari Amerika Serikat dan bahkan ditolak jika ingin mendapatkan pinjaman. Kebijakan ini sangat disegani namun kebijakan tersebut membiarkan AS menindaklanjutkan usaha reformasi kebijakan narkotika.

Contoh kasus, di tahun 2001, pemerintah Jamaika  memberikan proposal dekriminalisasi ganja di dalam perbatasan mereka. Bukan legalisasi penjualan, namun eliminasi penangkapan orang yang memiliki secara personal. Kedutaan AS berkata kepada media bahwa mereka tidak mendukung kebijakannya dan mengancam mencabut sertifikasi Jamaika jika diteruskan. Walau ada hubungan religius dan tanaman ganja di Jamaika, pemerintah Jamaika mundur. Di tahun 2006, pemerintah Meksiko memberikan proposal dekriminalisasi narkotika yang dipromosikan oleh Presiden Vincente Fox. Amerika secara umum menekan Meksiko agar kebijakan tidak dilanjutkan.
Amerika Serikat juga mempergunakan DEA (Drug Enforcement Administration) untuk turun langsung ke negara-negara produksi dan penyelundup narkoba. DEA sangat aktif di Kolombia dan Meksiko melawan kartel narkoba yang berada di kedua negara tersebut. Diawali dengan kartel Guadalajara yang dipimpin oleh Felix Angel Gallardo, dia adalah seorang penyelundup ganja dan memiliki ladang ganja terbesar disaat itu. Agen DEA yang memimpin investigasi adalah Enrique (Kiki) Camarena, seorang agen yang sangat niat dan bersih dalam lingkungan birokrasi yang sangat korup. Kiki berhasil menyita ladang ganja Felix Gallardo, oleh karena itu kartel Guadalajara rugi besar. Setelah penyitaan, di tahun 1985 Kiki Camarena diculik oleh kartel Guadalajara, disiksa sampai meninggal dunia, jenazahnya ditemukan 2 hari setelah kematian nya. Kematian Kiki Camarena memicu perang narkoba antara kartel-kartel di Amerika Latin seperti kartel Sinaloa, Guadalajara di Meksiko, Cali dan Medellin di Kolombia. Setelah kematian Kiki Camarena terjadi banyak pertumpahan darah antara DEA dan kartel.



Komentar